Technopreneurship adalah
sebuah wirausaha/ inkubator bisnis berbasis teknologi, model materi ini
merupakan strategi terobosan baru untuk mensiasati masalah pengangguran
intelektual yang semakin meningkat.
Inkubator
bisnis merupakan wadah atau tempat mahasiswa dan pekerja belajar
membuat perusahaan, disana mereka dapat belajar, membuat jaringan dan
alat untuk membuat kesuksesan usaha. Inkubator bisnis sendiri
didefinisikan sebagai “proses dukungan bisnis untuk menjadi lebih cepat
mencapai kesuksesan”.
Tujuan
dari inkubator bisnis adalah melahirkan perusahaan sukses yang dapat
meninggalkan program bantuan keuangan dan mampu berdiri sendiri, lulusan
incubator bisnis akan melahirkan wirausahawan yang mampu menciptakan
lapangan kerja, mengkomersialisasikan teknologi dan penguatan ekonomi
local dan nasional.
Menurut
Dedeng Abdul Gani A Globalisasi, inovasi teknologi dan persaingan yang
ketat pada abad ini memaksa perusahaan-perusahaan mengubah cara mereka
menjalankan bisnisnya. Agar dapat terus bertahan, perusahaan-perusahaan
mengubah dari bisnis yang didasarkan pada sumber daya (resources-based
business) menuju knowledge based business/company (bisnis berdasarkan
pengetahuan), dengan karakteristik utama ilmu pengetahuan. Ketika
pencapaian utama perusahaan adalah sustainable competitive advantage
atau pencapaian daya saing bisnis berkelanjutan, maka manajemen
perusahaan akan didorong pada proses pencapaian dan pengembangan
pengetahuan sebagai strategi bersaing perusahaan.
Knowledge
based company adalah perusahaan yang diisi oleh komunitas yang memiliki
pengetahuan, keahlian, dan ketrampilan. Komunitas ini memiliki
kemampuan belajar, daya inovasi, dan kemampuan problem solving yang
tinggi. Ciri lainnya adalah perusahaan ini lebih mengandalkan knowledge
dalam mempertajam daya saingnya, hal ini digambarkan dengan semakin
mengecilnya investasi yang dialokasikannya untuk physical capital,
sementara untuk modal intelektual mendapat alokasi investasi yang
semakin besar.
Competitiveness
juga didorong oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih dan
cepat, ketertinggalan dalam penguasaan teknologi akan berdampak pada
kesulitan untuk memenangkan persaingan, baik itu di level negara atau
organisasi. Persaingan antar negara ditandai dengan peningkatan skala
produksi yang dapat dihasilkan, investasi langsung yang dating dari luar
negeri dan peningkatan standar hidup masyarakat. Merujuk pada hasil
pertemuan Word Economic Forum (WEP), keunggulan kompetitif negara
dihasilkan oleh dua factor utama yaitu kompetitif dalam pertumbuhan dan
kompetitif pada mikroekonominya. keunggulan kompetitif ini dihasilkan
oleh factor penguasaan teknologi, peran instutusi publik dan sumber daya
makroekonomi.
Daya
saing seperti inilah yang dewasa ini menurun bagi Indonesia, peranan
produk nasional yang di hasilkan oleh peran tenologi tinggi masih sangat
rendah, produksi Indonesia masih didominasi oleh hasil teknologi rendah
dan menengah, konsekwensinya adalah Indonesia sulit untuk memperoleh
keungulan kompetitif, karena kapabilitas teknologinya masih rendah.
Dengan kata lain upaya yang paling layak untuk di kedepankan adalah
bagaimana meningkatkan penguasaan tekologi untuk meningkatkan daya
saing, baik itu pada level organisasi maupun level negara.
Salah
satu jawabannya adalah dengan konsep penerapan technopreneurship untuk
mencapai keunggulan masa yang akan datang. Prespektif bisnis masa yang
akan datang harus dibangun dari pondasi penguasaan teknologi, konsepsi
ini memerlukan sinergi antara penguasaan teknologi dan kapasitas
pembangunan, kemudian teknologi di trasformasikan menjadi dasar bisnis.
Esensinya adalah techonopreneurship sebagai pembangunan yang berbasis
pada teknologi atau Technology-business-based.
Pada
level negara diperlukan sinergitas antara teknologi dan pembangunan,
seperti sinkronisasi antara pemerintah dan peraturan bisnis, dalam
jangka panjang sinergi ini akan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan,
dan dengan dukungan teknologi yang maksimal yang pada akhirnya akan
menciptakan peluang sebagai motor penggerak pertumbuhan.
Kondisi
yang sama diterapkan pada level bisnis atau organisasi, organisasi yang
ingin mencapai keunggulan kompetitif berkelanjutan adalah organisasi
yang berbasis pada penguasaan teknologi dan menjadi teknologi sebagai
motor penggerak organisasinya.
Elemen Kunci Technological Entrepreneurship
Pentingnya
technopreneurship dewasa ini berkenaan dengan keterikatannya dengan
ilmu dan teknologi, ketika negara menggunakan pendekatan peningkatan
kemampuan teknologi sebagai pendorong peningkatan produksi nasional dan
dalam banyak negara sebagai strategi competitive advantage, maka
technoprenuersip adalah program yang termasuk didalamnya sebagai bagian
integral dari peningkatan kultur kewirausahaan.
Kunci
dari technopreneurship juga adalah kreativitas, dengan kreativitas yang
tinggi maka mental lama yang cenderung konvensional dari wirausahawan
akan berubah, kreativitas adalah bermain dengan imaginasi dan
kemungkinan-kemungkinan, memimpin perubahan dengan ide-ide baru dan
memberikan arti pada hubungan antara ide, orang dan lingkungan.
Technopreneurship
juga harus di bangun dengan pendekatan menyeluruh dan integral, yang
dilakukan dengan mengkolaborasikan “budaya” (budaya inovasi,
kewirausahaan dan kreativitas), “konsepsi” (konsep ikubator bisnis,
penelitian dan pengembanga, knowledge managemen dan learning
organization), yang didukung oleh kapabilitas wirausahanya sendiri,
koneksitas dan koboratif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar